Membaca sastra termasuk ke dalam bacaan estetis, yaitu bacaan yang berkaitan dengan seni atau keindahan. Ketika membaca karya sastra, pembaca harus mengaktifkan imajinasi dan kreativitasnya untuk memahami dan menghayati isi yang dibacanya. Setelah membaca sebuah karya sastra, pembaca memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari karya sastra yang dibacanya. Ini memiliki keunggulan bagi pembaca karya sastra dibandingkan pembaca karya lain. Membaca tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Saat membaca, yang terpenting adalah kemampuan untuk memahami semua informasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dipahami saat ini ketika dibuat informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, membaca merupakan proses decoding yang melibatkan kegiatan memecah kode-kode linguistik yang berupa lambang-lambang verbal sehingga menjadi sekumpulan informasi yang dapat dipahami. Selain itu, membaca merupakan upaya untuk menggali, mengetahui, memahami, dan mendalami makna dari objek bacaan baik tertulis maupun tidak tertulis, misalnya tanda-tanda alam dan bahasa. Setiap karya sastra yang benar-benar dibaca akan membekas di dalam diri
pembaca, sehingga pembaca terpengaruh dengan apa yang telah dibacanya. Agustian (2001: 186) mengemukakan bahwa “Begitu banyak paham, teori dan paradigma yang ditawarkan oleh orang-orang pintar lewat buku-buku yang ada di pasaran. Kadang ucapan ataupun pemikiran tersebut begitu mempengaruhi alam bawah sadar kita”. Pandangan ini mengharuskan kita untuk memahami dengan baik apa yang dibaca, sehingga pengaruh yang dihasilkan merupakan pengaruh positif, bukan pengaruh negatif. Lagi-lagi pemahaman merupakan kunci yang harus diutamakan ketika kita membaca. Jika tidak, maka kita akan termasuk pada golongan “orang terpelajar tidak mengetahui pengertian”.
PREVIEW
Download File Format












