Sejarah periwayatan hadis Nabi Muhammad saw. memang berbeda dengan sejarah periwayatan Al-Qur’an. Periwayatan Al-Qur’an, sejak zaman Nabi Muhammad saw. sampai ke generasi-generasi berikutnya tetap terpelihara, baik dalam bentuk tulisan maupun hafalan. Jadi periwayatan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw.
kepada para sahabat berlangsung secara terbuka dan umum,sehingga jumlah sahabat yang mendengarkan dan kemudian menghafalkannya jumlahnya tidak terhitung. Kemudian Al-Qur’an itu oleh para sahabat disampaiakan atau diajarkan kepada para ta’biin dengan bentuk yang sama pula dan demikian seterusnya sampai pada zaman kita sekarang ini. sehingga dengan demikian, tidak dapat diragukan lagi, bahwa l-Qur’an sampai sekarang tetap terpelihara keasliannya karena dari periwayatannya Al-Qur’an berkedudukan sebagai kebenaran yang tidak diragukan lagi.
Sedangkan hadis dalam hal periwayatannya memiliki sejarah bahwa sejak Nabi Muhammad saw. masih hidup, tidak sedikit para sahabat yang telah memiliki catatan-catatan di shahifahnya masing-masing. Di samping itu tidak sedikit pula yang menghafalnya tetapi, dalam penyampaian hadis oleh Nabi Muhammad saw., terkadang bersifat umum dan terbuka, seperti dalam bentuk khutbah Nabi Muhammad saw. dan dalam bentuk pertemuan-pertemuan tertentu, tetapi disamping itu juga tidak jarang pula dilakukan secara individual (dihadapan satu atau dua orang saja penyampaiannya).
Pengkodifikasian hadis secara resmi, tidak dilaksanakan pada zaman yang masih dekat dengan hidupnya Nabi Muhammad saw. tetapi dilaksanakan pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz di awal abad II Hijriyah.
Dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut sebelum hadis dikodifikasikan telah terjadi berbagai pemalsuan hadis, baik yang didasari oleh kepentingan politik, kepentingan agama, atau kepentingan lainnya. Sehingga, apa yang disampaikan oleh periwayatan hadis sebagai hadis Nabi Muhammad saw. dengan sendirinya memerlukan penelitian yang sungguh-sungguh dan ketat untuk menetapkan apakah benar riwayat tersebut berasal dari Nabi Muhammad saw. atau bukan berasal dari Nabi Muhammad saw. Hal di atas tersebut telah mendorong para Ulama hadis untuk mengadakan penelitian yang mendalam dan menciptakan metode-metode ilmiah tertentu, untuk menemukan riwayat-riwayat hadis yang benar-benar berasal dari Nabi Muhammad saw. diantaranya ada yang menggunakan pendekatan jumlah dan kualitas perawinya, dan menggunakan pendekatan kebenaran isi atau materi yang diriwayatakan oleh perawi hadis tersebut serta ada yang menggabungkan kedua pendekatan tersebut.
PREVIEW
Download File Format












