Pendidikan dalam Islam menempati posisi yang sangat sentral. Sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ berupa perintah membaca (iqra’), Islam telah menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Ilmu bukan hanya alat untuk memperkaya intelektual, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan keimanan, membentuk akhlak, serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Tidak mengherankan jika sepanjang sejarah, umat Islam sangat menekankan tradisi keilmuan, sehingga lahirlah pusat-pusat pendidikan yang menjadi mercusuar dunia.
Pada masa kejayaan Islam, pendidikan berkembang pesat melalui berbagai institusi, mulai dari masjid, madrasah, ribath, khanqah (tempat sufi), hingga universitas. Masjid, sebagai lembaga pendidikan paling awal, berperan penting dalam menanamkan dasar-dasar keilmuan Islam. Dari sana lahirlah madrasah-madrasah yang kemudian mengembangkan kurikulum lebih sistematis. Di antara sekian banyak lembaga pendidikan Islam, Al-Azhar di Kairo, Mesir, muncul sebagai salah satu yang paling menonjol dan berpengaruh, baik dalam dunia Islam klasik maupun modern.
Al-Azhar didirikan pada masa Dinasti Fatimiyah sekitar tahun 970–972 M. Awalnya berfungsi sebagai masjid untuk kegiatan ibadah sekaligus sebagai pusat penyebaran ajaran Syiah Ismailiyah, Al-Azhar berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan yang memiliki pengaruh global. Setelah Mesir dikuasai Dinasti Ayyubiyah, orientasi keilmuannya bergeser ke Sunni, dan sejak itu Al-Azhar menjadi benteng utama pemikiran Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Seiring perjalanan waktu, lembaga ini berhasil mempertahankan eksistensinya selama lebih dari seribu tahun, melewati berbagai tantangan politik, sosial, dan budaya.
PREVIEW
Download File Format












