Sebuah karya sastra yang diciptakan pengarang biasaya akan mencerminkan keadaan atau kondisi sosial Masyarakat saat karya tersebut diuat. Beberapa konflik cerita yang diangkat sepertikesenjangan sosial, penyimpangan norma, dan nilai adat serta penindasan terhadap gender ataupun ras minoritas, tergambar dalam karya sastra karena setiap karya sastra akan bercermin terhadap kenyataan yang ada. Meskipun sastra berangkat dari kenyataan, tetapi tentunya karya sastra sudah diolah dengan kreatifitas dan imajinasi pengarang sehingga tidak dapat diharapkan realita dalam karya sastra akan sama persis dengan yang ada di dunia.
Pendapat plato tentang sastra dan kenyataan tergambar dalam karangannya tentang negara (kitab kesepuluh) berikut. Seni hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebeneran. seorang penyair menjiplak kenyataan yang dapat disentuh dengan pancaindra, atau dengan kata lain mereka menjiplak sebuah jiplakan. Menurut plato, tukang pembuiat barang-barang lebih berguna ketimbang seniman dan penyair yang hanya menghasilkan gambar-gambar kosong yang jauh dari kenyataan. Dunia empiric tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, tapi hanya mendekatinya lewat mimesis (peneladanan, pembayangan, atau peniruan). Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak. Karya seni menjadi sarana pengetahuan yang has, cara yang unik untuk membayangkan pemahaman tentang aspek atau tahap situasi manusia yang tidak dapat di ungkapkan dan di komunikasikan dengan jalan lain.
PREVIEW
Download File Format












