Kajian terhadap bahasa pada awal abad ke-20 masih didominasi oleh pandangan strukturalis yang memusatkan perhatian pada bentuk dan aturan tata bahasa di tingkat kalimat. Aliran ini dipelopori oleh Leonard Bloomfield (1887–1949) yang menekankan bahwa studi linguistik harus berfokus pada struktur internal bahasa tanpa mengaitkannya dengan konteks sosial atau makna yang lebih luas. Pandangan tersebut sangat berpengaruh di kalangan linguis Amerika dan membuat kajian linguistik pada masa itu bersifat kaku serta terpisah dari realitas sosial pengguna bahasa. Meskipun demikian, beberapa tokoh seperti Franz Boas dan Edward Sapir mulai mencoba mengaitkan bahasa dengan kebudayaan, membuka arah baru bagi pendekatan yang lebih humanistik dalam linguistik.
Perubahan besar mulai terjadi pada tahun 1952 ketika Zellig S. Harris, seorang linguis asal Amerika, memperkenalkan istilah Discourse Analysis melalui artikelnya di jurnal Language. Harris menyatakan ketidakpuasannya terhadap pendekatan tata bahasa kalimat yang dianggap terlalu sempit karena hanya membahas aspek internal struktur bahasa. Ia berpendapat bahwa bahasa seharusnya dikaji secara lebih komprehensif dengan memperhatikan konteks eksternal, termasuk situasi sosial dan fungsi komunikatifnya. Pandangan Harris ini sempat menentang arus utama strukturalisme Bloomfieldian, tetapi justru menjadi langkah awal menuju lahirnya kajian analisis wacana yang lebih luas dan multidimensional.
PREVIEW
Download File Format

.webp)










