Asia Timur dari sisi kebudayaan merupakan kawasan yang memiliki kesamaan serta keterkaitan antarbudayanya. Jepang, sebagai negara kepulauan yang terletak di Asia Timur, berada di bagian barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan berbatasan dengan negara-negara seperti Republik Rakyat Tiongkok, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara Jepang berada di Laut Okhotsk, sedangkan wilayah paling selatannya terdiri dari gugusan pulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang berdekatan dengan Taiwan.
Jepang adalah salah satu negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Keberhasilan bangsa Jepang yang tercapai melalui Restorasi Meiji menghasilkan kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Pada masa kejayaan Tenno, Jepang mengembangkan ambisi untuk menjadi negara imperialis yang menganut ideologi fasisme, serta mengadopsi politik Hakko I-Chiu sebagai propaganda untuk mempengaruhi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan di balik propaganda Jepang dan cara-cara yang digunakan oleh Jepang untuk menyebarkan pengaruhnya terhadap masyarakat Indonesia antara tahun 1942 hingga 1945.
Dalam sejarah Jepang, terdapat peristiwa penting yang dikenal sebagai “Restorasi Meiji”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2000), restorasi berarti pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula. Dalam konteks sejarah Jepang, Restorasi Meiji merujuk pada pengembalian kekuasaan dari tangan Keshogunan Tokugawa kepada Kaisar. Periode ini dikenal sebagai era Meiji, yang menandai berakhirnya pemerintahan militer oleh keluarga Tokugawa yang telah berkuasa secara turun-temurun selama 264 tahun, sejak tahun 1603 hingga 1867.
Jepang pertama kali menjalin hubungan dengan bangsa Barat pada tahun 1543. Kemudian, pada tahun 1549, seorang misionaris bernama Franciscus Xaverius tiba di kota Kagoshima, Pulau Kyushu. Ia menyebarkan ajaran Kristen dengan cukup mudah karena mendapat dukungan dari para penguasa lokal maupun pusat. Agama Kristen pun menyebar dengan cepat di Jepang.
Pemerintahan Tokugawa dikenal cukup berhasil dalam mengelola negara. Keberhasilan ini membawa kemajuan dalam berbagai bidang, salah satunya produksi. Untuk memperluas pasar dan menjual hasil produksi tersebut, Jepang perlu menjalin hubungan dagang dengan negara lain. Hal ini mendorong munculnya kota-kota besar sebagai pusat perekonomian dan perdagangan. Karena pasar dalam negeri dianggap tidak mencukupi, Jepang mulai membuka hubungan ke luar negeri dan mengirim para pedagang ke wilayah seperti Filipina, Makau, Siam (Thailand), dan negara-negara lain di selatan.
Namun, penyebaran agama Kristen yang ajarannya bertentangan dengan sistem feodal Jepang menimbulkan kekhawatiran di kalangan penguasa. Akhirnya, di bawah kekuasaan Tokugawa Ieyasu, diterbitkan larangan terhadap ajaran Kristen. Ketegangan ini mencapai puncaknya saat terjadi pemberontakan “Shimabara no Ran”, yang kemudian mendorong pemerintah untuk menutup diri dari dunia luar. Kebijakan ini dikenal dengan sebutan “Sakoku”, atau negara tertutup.
Situasi mulai berubah ketika pada tahun 1853, Komodor Matthew C. Perry dari Amerika Serikat memasuki Teluk Tokyo dengan membawa surat resmi dari Presiden Amerika. Surat tersebut berisi permintaan untuk membuka hubungan diplomatik dengan Jepang. Pemerintah feodal Jepang meminta waktu setahun untuk mempertimbangkannya. Saat Perry kembali pada tahun berikutnya, Jepang merasa tidak memiliki pilihan lain karena dihadapkan pada ancaman kekuatan militer. Akhirnya, Jepang menyerah dan membuka diri terhadap dunia luar.Kondisi ini membuat pemerintahan Tokugawa menyadari bahwa kekuasaannya tidak lagi dapat dipertahankan. Mereka pun mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar, yang menjadi titik awal dari “Restorasi Meiji”. Periode ini menandai awal modernisasi Jepang di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, militer, hingga pendidikan.
PREVIEW
Download File Format












